Press "Enter" to skip to content

Corat-Coret di Toilet dengan Gaya Satire Eka Kurniawan

Corat-coret di toilet merupakan salah satu karya penulis kondang Indonesia, Eka Kurniawan. Tulisannya selalu menjadi karya yang ditunggu-tunggu oleh banyak pecinta buku. Buku yang berjudul cora-coret di toilet ini merupakan sebuah kumpulan cerpen yang berisi dua belas kisah. Kedua belas cerita ini dikemas dengan apik dan khas sekali dengan sosok Eka.

Kumpulan cerita pendek ini menceritakan tentang realitas kehidupan manusia di masyarakat. Banyak hal yang kemudian saling berhubungan satu sama lain dengan kisah yang dipaparkan di sini. Eka Kurniawan membawakan kisah di dalamnya dengan bahasa yang mudah dipahami dan sarat akan pesan moral.

Ulasan Buku Corat-coret di Toilet

Antologi yang berisikan dua belas cerita pendek ini akan membawa pembaca untuk mengkritisi segala hal yang seringkali dijumpai pada kehidupan sehari-hari. Buku ini diawal dengan cerita pendek yang berjudul ‘Peterpan’. Kisah ini menceritakan seorang pemuda yang memiliki idealisme tinggi untuk melawan pemerintah yang sewenang-wenang. Akan tetapi, perjuangannya menjadi sia-sia karena kekuatan birokrat.

Selanjutnya, pembaca akan disuguhkan dengan cerita yang berjudul ‘Dongeng sebelum Bercinta’. Cerita pendek ini menceritakan perihal realitas perjodohan anak dari orang tua. Seorang gadis yang ingin memilih jalan hidupnya sendiri harus dipertemukan dengan paksaan menikah dengan seorang yang tidak dicintainya. Kemudian ia pun memilih cara yang bijaksana agar tidak menyakiti hati kedua orangtuanya.

Kisah selanjutnya adalah cerita pendek berjudul ‘Corat-coret di Toilet’. Sama dengan judul buku ini, judul cerpen ini dipilih karena cerita di dalamnya yang amat nendang. Kisah ini bercerita perihal kritik dari masyarakat kepada pemerintahan. Kritik ini mereka sampaikan lewat coretan di toilet. Tentu saja karena mereka bisa mengutarakan aspirasinya dengan bebas tanpa adanya pengawasan di sana.

Judul cerita yang lain seperti Teman Kencan, Rayuan Dusta untuk Marietje, Hikayat si Orang Gila, dan Si Cantik yang Tak Boleh Keluar Malam menjadi kisah selanjutnya. Cerita pendek ini memberikan beberapa gambaran mengenai kehidupan sosial manusia yang terlalu kompleks.

Cerita pendek lainnya, seperti Siapa Kirim Aku Bunga?, Tertangkapnya si Bandit Kecil Pencuri Roti, Kisah dari Seorang Kawan, dan Dewi Amor menceritakan soal hal-hal sederhana yang dalam. Kisah sederhana dari kehidupan manusia seringkali membuat kita harus berpikir ulang dalam menyikapi kehidupan yang ada.

Buku ini kemudian ditutup dengan cerita pendek berjudul Kandang Babi. Cerita pendek ini mengisahkan soal kehidupan mahasiswa miskin yang pontang-panting dalam menghidupi dirinya. Kisah ini kemudian memiliki akhir yang cukup mengejutkan dan tidak terduga.

Mengulik Pesan Moral, dari Corat-coret hingga Permainan Judi

Buku corat-coret di toilet ini memanglah memiliki bahasa yang mudah dipahami. Meski demikian, Eka Kurniawan menyisipkan pesan moral di dalamnya secara implisit. Sehingga, pembaca harus berpikir dan merenungi isi yang hendak disampaikan tersebut. Tak jarang pula Eka memberikan pesan moral berupa penalaran sehingga pembaca harus berpikir dahulu.

Kisah sederhana yang tertuang dalam buku corat-coret di toilet ini berasal dari kehidupan masyarakat. Banyak sekali fenomena yang ditemukan di masyarakat dengan kondisi yang sejalan dengan cerita di dalamnya. Bahasa satire yang digunakan oleh Eka Kurniawan juga membuat tulisan ini makin ‘nampol’ pembacanya.

Kesederhanaan cerita di dalamnya justru memberikan pesan moral yang dalam dan penting dalam kehidupan sehari-hari. Misal dalam cerita pendek berjudul Rayuan Dusta untuk Marietje memberikan petuah penting dalam kehidupan. Dalam cerita tersebut diberikan amanat bahwa dalam memandang suatu hal harus dilihat secara dua sisi. Dua perspektif yang berbeda akan memberikan pandangan yang berbeda pula.

Dalam kisah Kandang Babi misalnya, pembaca akan melihat situasi kehidupan mahasiswa subversif yang hidup sedemikian rupa. Hidup dalam kandang babi, akademik yang berantakan, kecanduan dalam bermain judi, hingga sulit untuk keluar dari jeratan realitas tersebut.

Kedua belas cerita pendek yang disusun dengan apik ini menggunakan gaya satire yang khas dari Eka. Meski ceritanya sederhana, tetapi Eka Kurniawan mengemas buku corat-coret di toilet dengan tidak sederhana dan apa adanya. Maka tidak heran jika buku ini mendapat perhatian dari banyak pemerhati sastra.

Ide cerita yang memperlihatkan kondisi apa adanya, seperti pemerintah yang anti kritik, permainan judi, hingga kehidupan romantisme laki-laki dan perempuan ini akan membuat pembaca kagum. Bahasa satire dan dipadukan dengan realis dan surealis menjadikan narasi di dalamnya tersusun sempurna.

Kritik Sosial dan Fenomena Masyarakat di Dalam Karya Sastra

Karya sastra di Indonesia memiliki sejarah yang cukup panjang. Nama-nama penulis sendiri sudah menjadi legenda dengan karyanya yang luar biasa. Maka tak heran jika karya sastra kemudian dijadikan kritik sosial yang aman dan tepat sasaran.

Baca juga: Pemain Judi Profesional dalam Karya Sastra Legendaris Indonesia

Buku corat-coret di toilet ini menjadi salah satu bentuk kritik sosial atas fenomena yang terjadi di masyarakat. Buku ini memberikan kritik akan banyak hal, mulai dari pemerintahan hingga ruang privat sekalipun. Maka buku ini sangat cocok untuk dibaca agar menjadi refleksi dalam memahami kisah-kisah kehidupan. Selamat membaca!