Press "Enter" to skip to content

Hutan Sulawesi: Dampak Negatif Pengalihan Fungsi

Berita sulawesi tentang hutan sulawesi berhasil menjadi perhatian lebih. Sebab, populasi manusia terus meningkat setiap tahunnya, diiringi dengan kebutuhan akan pangan dan lapangan pekerjaan. 

Hal inilah yang mendasari keputusan pengalihan fungsi hutan menjadi lahan pertanian, perkebunan, pertambangan, maupun perumahan. Jika dilihat dari segi fungsi, keputusan tersebut cukup bijaksana.

Namun, tidak sedikit pula yang lantas menimbulkan polemik dan permasalahan tersendiri. Sebab, ada beberapa kasus pembukaan lahan yang tidak disertai dengan surat perizinan dari pemerintah setempat maupun pusat.

Hutan Sulawesi yang Menipis

Sudah ada peraturan perundangan yang mengatur tentang tata laksana pembukaan hutan. Meski demikian, ternyata masih saja ada oknum-oknum tidak bertanggung jawab yang tidak melaksanakan ketentuan tersebut.

Tidak hanya pengusaha saja, tetapi para pejabat pun banyak yang melakukan tindak penyalahgunaan wewenang. Seperti beberapa tahun lalu, ada sebuah berita tentang hutan sulawesi yang mengatakan bahwa sebanyak 18 perusahaan tambang melanggar aturan.

Selain tidak dilengkapi dengan surat keterangan dari AMDAL, perusahaan tersebut juga memasuki batas kawasan hutan lindung. Tentu sangat disayangkan, mengingat fungsi hutan yang juga memiliki peran penting sebagai jantung dunia. 

Oleh karena itu, sangat penting untuk menanamkan kesadaran mengenai kondisi lingkungan sekitar. Berikut kita akan merangkum beberapa dampak negatif dari pengalihan fungsi hutan:

1. Pencemaran Lingkungan

Dampak negatif yang sudah nyata terjadi adalah pencemaran lingkungan sekitar. Hutan yang dulunya asri, kini sudah berubah wujud menjadi gersang dan terpapar polusi. Hal ini disebabkan oleh beberapa hal berikut ini:

  • Peningkatan aktivitas manusia yang tidak mengindahkan kebersihan lingkungan.
  • Limbah yang dihasilkan oleh kegiatan rumah tangga atau bahkan industri.
  • Pembukaan lahan yang menggunakan peralatan tidak ramah lingkungan.
  • Pengeksploitasian alam untuk memenuhi kebutuhan.

Tindakan tersebut tidak dapat dibiarkan begitu saja tanpa adanya penanganan yang tepat. Kerusakan alam benar-benar menjadi potret nyata keegoisan manusia. 

Baca juga: Perbedaan Skala Pengerjaan Konveksi baju

2. Hilangnya Daerah Resapan Air Hujan

Salah satu fungsi hutan yaitu untuk menahan air agar tidak menggenangi rumah warga dan meresapkannya ke dalam tanah. Selain itu, air yang tersimpan akan menjadi cadangan saat kemarau melanda, sehingga manusia tetap dapat memanfaatkannya. 

Jika kawasan hutan tersebut tertutup dengan perumahan, maka air hujan tidak lagi memiliki tempat untuk peresapan. Akibatnya, air yang dapat meresap ke dalam tanah hanya sedikit, sehingga ketersediaan air tanah pun akan semakin menipis.

Hutan sulawesi keberadaannya semakin menipis. Hampir setiap tahun ada pembukaan lahan yang tidak diiringi dengan solusi yang dibutuhkan. 

Bagi yang tinggal di daerah pengunungan, kondisi tersebut akan sangat terasa. Mereka harus melakukan penyedotan dan pengeboran sampai puluhan meter untuk mendapatkan air tanah atau air sumur. Itu pun air yang didapatkan belum tentu berkualitas dan memenuhi standar.

3. Menimbulkan Bencana Alam

Bulan September lalu, berita tentang kondisi hutan sulawesi kembali terekspos. Tepatnya, setelah peristiwa banjir bandang yang kembali menimpa Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah. 

Bencana alam yang terjadi pada tanggal 14 September tersebut bukanlah yang pertama kali. Bahkan, dapat dikatakan Kabupaten Sigi seolah sudah menjadi langganan banjir bandang. Beberapa rumah dan fasilitas umum rusak, termasuk jembatan Rogo yang putus total.

Curah hujan yang tinggi tak lagi mampu dihadang oleh hutan yang kini semakin mengenaskan. Bukan hanya Tuhan yang sedang bekerja, tetapi keserakahan manusia juga turut andil di dalamnya.

4. Merusak Habitat Hewan

Ada yang pernah mendengar kabar tentang seorang petani yang tewas akibat diterkam oleh seekor harimau? Berita ini cukup menggemparkan di portal media online. Meski terjadi di daerah Sumatera, peristiwa ini juga diekspos di berita tentang hutan sulawesi.

Hal yang menjadi pertanyaan, yaitu kenapa harimau dapat sampai ke pemukiman warga? Tidak lain dan tidak bukan, karena habitat aslinya sudah rusak. Harimau tersebut tak lagi memiliki tempat tinggal, bahkan makanannya pun sudah ikut punah diburu oleh manusia.

Jika dirunut ke belakang, mungkin petani tersebut bukanlah orang yang merusak habitat harimau. Dari sini manusia harus belajar, bahwa apa yang diperbuatnya saat ini mungkin saja akan merugikan orang lain di kemudian hari.

5. Lahan Pertanian dan Perkebunan Hilang

Tak hanya hutan, pengalihan fungsi lahan juga merambah ke bidang pertanian dan perkebunan. Dulu, tanah yang masih berupa hamparan padi atau teh, kini sudah berubah menjadi beton, baik berupa rumah, vila, maupun industri.

Bagaikan dua sisi mata koin yang saling berkebalikan. Satu sisi pengalihan lahan memberikan tempat tinggal bagi manusia, tetapi di sisi lain sumber mata pencaharian hilang. Akibatnya, angka kemiskinan di Indonesia terus meningkat.