Press "Enter" to skip to content

Mengapa si Penjudi Masuk Surga sedangkan si Sufi Masuk Neraka? Sebuah Ulasan

Buku berjudul ‘mengapa si penjudi masuk surga sedangkan si sufi masuk neraka’ adalah tulisan karangan Yoyok Dwi Prasetyo. Buku ini terbit pada tahun 2013 lalu oleh penerbit Narasi. Membaca judul ini tentu akan membuat pembaca bertanya-tanya, mengapa bisa demikian? Apakah kisah tersebut ada dan nyata?

Buku ini merupakan sebuah tulisan yang bisa merefleksikan kisah kehidupan manusia secara universal. Di mana manusia selalu diciptakan dalam dua sisi yang berbeda, baik dan buruk. Tinggal bagaimana cara kita memilih jalan hidup yang nantinya akan dijalani.

Mengapa si penjudi masuk surga sedangkan si sufi masuk neraka menjadi sebuah buku bacaan menarik yang patut untuk dibaca. Buku ini akan membawa pembaca ke dalam berbagai perspektif baru mengenai sikap kepada manusia dan Allah SWT.

Kisah Si Penjudi yang Bertetangga dengan Si Sufi

Dalam melakukan kegiatan sehari-hari, manusia selalu melakukan segalanya dengan versi terbaiknya. Mereka berlomba-lomba untuk tampil sebaik mungkin di depan sesama manusia. Entah untuk alasan dipuji atau memang benar sebuah ketulusan.

Maka tak sedikit manusia yang melakukan kebaikan tersebut dengan menggunakan topeng. Topeng ini merupakan topeng kemunafikan yang menutupi keburukan manusia sehingga ia akan terlihat baik. Melalui buku mengapa si penjudi masuk surga ini, hal-hal semacam ini akan dibahas secara lebih jauh secara realistis.

Amal perbuatan manusia hanya menjadi urusan diri sendiri dengan Allah SWT. Tetapi seringkali muncul sifat sombong dan pura-pura agar dipuji oleh orang lain. Dengan banyaknya fenomena ini, buku ini mengkritisi sikap manusia yang tidak tulus melakukan perbuatan karena Allah SWT.

Di dalam buku ini, dikisahkan ada seorang sufi yang memiliki rumah berdekatan dengan rumah si penjudi. Rumah mereka saling berhadapan dan menjadi tetangga dalam waktu yang cukup lama. Si sufi merasa bahwa tetangganya ini adalah seseorang yang melakukan kegiatan buruk karena selalu berjudi.

Karena alasan tersebut, si sufi tidak suka dengan si penjudi yang merupakan tetangganya ini. Maka, setiap kali si penjudi ini pulang ke rumahnya setelah bermain judi, si sufi selalu menumpuk batu di depan rumah. Kegiatan ini selalu ia saksikan dan memiliki makna bahwa ini sebuah peringatan.

Peringatan yang dilakukan oleh si sufi dengan menata batu ini menunjukkan bahwa si penjudi memiliki perbuatan buruk dan harus dijauhi. Kegiatan ini sudah dilakukan si sufi selama 20 tahun lamanya. Baik si penjudi maupun si sufi tidak ada yang menghentikan upayanya ini. Si sufi masih tetap saja menumpuk batu dan si penjudi diam saja tanpa bereaksi apapun. Aksi ini berhenti ketika si sufi dan si penjudi meninggal dunia.

Bagaimana si Penjudi Bisa Masuk Surga?

Setelah kematian mereka berdua, malaikat ditugaskan untuk mengantar ke surga dan neraka. Si Penjudi sudah menyadari kesalahan dan dosanya sehingga ia yakin akan dibawa ke neraka. Ketika melewati perjalanan itu, sang malaikat justru membawa si penjudi ke surga.

Si penjudi pun terheran-heran dan menanyakan hal ini kepada malaikat. Mengapa dirinya yang berdosa dan dikenal sebagai si penjudi bisa masuk ke surga? Malaikat pun menjawab bahwa si penjudi ini sudah diampuni dan diperbolehkan masuk ke surga.

Ia pun bergegas mengikuti malaikat untuk ke surga. Lalu ia teringat kepada si sufi tetangganya. Pasti ia akan bertemu dengan si sufi di surga. Kemudian si penjudi bertanya kepada malaikat apakah si sufi sudah ada di sana terlebih dahulu atau tidak. Maka malaikat pun menjawab bahwa si sufi ada di neraka.

Jawaban ini membuat si penjudi heran. Selama hidupnya, si sufi senantiasa melakukan kebaikan. Bahkan ia selalu mengingatkan si penjudi ketika pulang bermain judi dengan menata batu setiap hari. Pertanyaan ini menggangu pikiran si penjudi, mengapa si sufi masuk neraka?

Ada alasan mengapa si sufi masuk neraka. Selama hidupnya ia seolah-olah mengingatkan si penjudi untuk selalu berbuat baik dengan cara menata batu di depan rumahnya. Si penjudi akan merasa malu dengan adanya batu yang semakin bertambah setiap harinya. Tetapi, justru inilah yang tidak diketahui oleh manusia.

Perbuatan yang seolah-olah baik ini memiliki maksud yang lain. Dengan selalu melakukan perbuatan ini, si sufi tidak tulus mengingatkan si penjudi. Tetapi ada maksud lain di balik semua itu.

Dari perbuatannya yang selalu mengingatkan si penjudi, si sufi hanya ingin terlihat lebih baik dari si penjudi. Ia melakukannya dengan sombong agar orang yang melihatnya juga merasa bahwa si sufi adalah orang yang baik karena sering mengingatkan tetangganya.

Mengapa Si Penjudi Masuk Surga dan Si Sufi Masuk Neraka?

Buku ini membahas mengapa si penjudi bisa masuk surga sementara si sufi masuk neraka dengan bahas yang mudah dipahami. Dalam bagiannya tersebut dijelaskan bahwa penjudi ini akhirnya masuk ke surga.

Perbuatan pamer atau ria yang dilakukan oleh si sufi jelas sekali langsung membuat amalan baik tersebut tidak dihitung. Si sufi juga merasa hanya dirinyalah yang paling baik dibandingkan tetangganya. Padahal kesombongan dalam diri manusia akan mencelakakan diri.

Baca juga: Pemain Judi Profesional dalam Karya Sastra Legendaris Indonesia

Bagi si penjudi, ia menyadari segala perbuatannya dan memohon ampunan kepada Allah SWT. sehingga bisa masuk surga. Tidak pernah ada rasa benci dari si penjudi terhadap si sufi meskipun setiap hari ada batu di depan rumahnya. Justru ia merasa bersyukur ada tetangga yang selalu mengingatkannya.