Press "Enter" to skip to content

Permainan Kartu Truf sebagai Media Dialog dalam Novel Cantik itu Luka

Novel cantik itu luka karya Eka Kurniawan menjadi salah satu mahakarya di dalam dunia kepenulisan. Karya sastra ini sudah mendapat banyak penghargaan baik di tingkat nasional maupun internasional. Novel cantik itu luka juga sudah diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa dan terdistribusi ke berbagai negara.

Eka Kurniawan merupakan penulis yang mampu menyihir kata-kata hingga tulisan yang dilahirkannya ini sungguh berbobot. Dengan pembawaan yang santai, tetapi penulis mampu membawanya dengan makna yang sungguh dalam dan menggelitik. Bukan hanya novel cantik itu luka saja, novel lain karya Eka juga menjadi novel emas dalam dunia kesastraan Indonesia.

Novel ini pertama kali terbit pada tahun 2002 dan terus mengalami cetakan ulang hingga kini. Novel ini bercerita tentang kehidupan di masa penjajahan kolonial yang penuh dengan nilai-nilai sosial budaya di dalamnya.

Buku ini seakan menjadi kritik atas sistem masyarakat yang ada di dalam kehidupan. Banyak sekali nilai-nilai yang bisa dipetik dari buku ini. Cantik itu luka termasuk ke dalam novel dengan kategori dewasa karena ada beberapa unsul seksual di dalamnya. Meski demikian, unsur muatan dengan pesan moral dengan gaya satire dan realis lebih banyak dan ngena bagi pembaca yang menikmati karya ini.

Novel Cantik itu Luka untuk Memahami Nilai Sosial

Novel cantik itu luka sudah menjadi rujukan bagi siapa saja yang menggemari karya Eka Kurniawan. Berbagai ulasan juga muncul atas karya legendaris ini. Sejauh apa sih nilai-nilai yang disematkan dalam buku dengan tebal lebih dari 400 halaman ini?

Dalam sepanjang kisah novel cantik itu luka, kita akan dibuat ngeri, kagum, sedih, heran, dan terkejut dalam sekali waktu. Kisah Ayu Dewi yang berjuang di tengah konflik atas dirinya dan lingkungannya membuat novel ini makin terasa adrenalinnya. Kehidupan di masa kolonial dan memaksanya menjadi seorang pelacur seringkali menimbulkan banyak stigma negatif.

Masyarakat sudah memiliki pandangan yang buruk akan dunia pelacuran. Di mana lingkungan ini akan dipenuhi dengan kelompok pemabuk, pemain judi, preman, hingga seks bebas. Tetapi, Ayu Dewi lewat novel Cantik itu luka memberikan gambaran kehidupan yang berbeda. Ia memiliki peran dan kuasa atas dirinya.

Nilai sosial di dalam novel ini sarat akan unsur kehidupan yang kompleks. Serangkaian kejadian yang disusun dengan alur maju mundur ini membuat pembaca akan bergumam ‘ohh’ ketika membaca di bab-bab selanjutnya.

Membangun Dialog dengan Media Kartu Judi Truf Meski Penuh Luka

Nilai-nilai sosial yang terkandung di dalam novel ini sangatlah banyak, tergantung bagaimana seseorang melihat sudut pandang yang hendak dilihat. Salah satu yang menarik dari kisah perjalanan ini adalah permainan truf. Permainan ini adalah salah satu jenis judi dengan menggunakan kartu.

Di dalam novel ini, ada bagian di mana tokoh cerita menghabiskan waktunya dengan bermain kartu truf. Kedua tokoh ini adalah Maman Gendeng dan Sang Shodancho. Keduanya adalah pemilik peran yang cukup penting meski bukanlah bagian dari tokoh utama dalam novel cantik itu luka.

Maman Gendeng dan Sang Shodanco adalah penduduk Halimunda yang saling bermusuhan. Hal ini dikarenakan Maman Gendeng menjadi penguasa terminal menggantikan preman sebelumnya dan Sang Shodanco adalah penguasa setempat, keduanya saling bersaing merebutkan wilayah. Tak jarang keduanya sering terlibat kelahi.

Perseteruan ini terus berlangsung hingga pada suatu saat konflik di antara keduanya memuncak. Maman Gendeng jatuh cinta pada Ayu Dewi dan Sang Shodanco diam-diam menidurinya di tempat pelacuran. Maka terjadilah perkelahian hebat antara keduanya. Konflik ini dalam novel Cantik itu Luka memanglah bukan topik utama, tetapi menarik untuk dilihat.

Hubungan tidak baik antara Maman Gendeng dan Sang Shodanco kemudian membaik setelah Ayu Dewi meminta Maman Gendeng menikahi anaknya yang paling kecil, Maya Dewi, sebagai bukti cintanya. Maman Gendeng dilema meski akhirnya ia menikahi Maya Dewi, anak dari perempuan yang dicintainya.

Sementara itu Sang Shodanco jatuh cinta pada Alamanda, anak sulung Ayu Dewi. Maka menikahlah mereka meski Alamanda sebenarnya menyukai lelaki lain. Konflik keluarga inilah yang kemudian mendekatkan Maman Gendeng dan Sang Shodanco yang kemudian menjadi saudara ipar.

Maman Gendeng sering bermain permainan kartu truf di terminal bersama Sang Shodanco untuk membicarakan hal-hal yang terkait urusan keluarganya. Melalui media inilah kemudian terbangun dialog yang baik di antara keduanya. Mereka saling mencari solusi atas permasalahannya sambil bermain kartu judi ini.

Kartu Truf dan Budaya Masyarakat Halimunda dalam Novel

Permainan kartu truf bagi masyarakat Halimunda adalah sebuah permainan yang lumrah untuk dimainkan. Biasanya permainan ini ditemukan di sudut terminal atau pasar. Bagi yang ingin melawan Maman Gendeng, datanglah ke terminal dan pasang taruhan bersamanya.

Baca juga: Pemain Judi Profesional dalam Karya Sastra Legendaris Indonesia

Di dalam novel cantik itu luka, diperlihatkan bagaimana permainan judi jenis kartu truf ini berlangsung dan menjadi budaya. Terbentuknya budaya ini karena mereka banyak menggunakan waktu luang untuk bermain kartu ini. Sehingga muncul sebuah kebiasaan baru. Nilai inilah yang kemudian menjadi sebuah fenomena di masyarakat. Di mana kebiasaan akan melahirkan sebuah budaya.