Press "Enter" to skip to content

Novel Ronggeng Dukuh Paruk: dari Isu Politik hingga Feminisme

Novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari ini merupakan salah satu karya sastra yang sangat dibanggakan dalam dunia kepenulisan. Novel ini sarat akan nilai-nilai penting dalam kehidupan masyarakat, baik di masa lalu atau sekarang. Maka tak mengherankan jika novel ini menjadi rujukan dalam dunia sastra.

Dalam perkembangannya, novel Ronggeng Dukuh Paruk sempat mengalami beberapa kali pelarangan untuk beredar. Hal ini karena berkaitan dengan unsur politik di dalamnya. Kondisi Indonesia yang sedang memanas di tahun 1965 membuat novel ini pernah ditarik dari peredaran karena dinilai bisa menjadi pemicu suatu golongan tertentu. Padahal secara keseluruhan, tidak ada yang menyangkut bagian dari politik itu sendiri.

Meski menimbulkan pro dan kontra, reaksi ini dianggap berlebihan sebab sentimental politik di tahun itu sedang tinggi. Selang beberapa waktu, novel ini boleh untuk diedarkan lagi. Bahkan, novel ini juga diangkat menjadi film hingga memenangkan banyak penghargaan bergengsi lho, keren ya!

Apa saja yang bisa dikupas dari novel ini hingga menjadi sebuah mahakarya dalam dunia sastra? Yuk simak ulasan berikut ini!

Nilai Budaya dan Jati Diri Masyarakat lewat Panggung Ronggeng

Dukuh Paruk merupakan latar tempat dari kisah ini. Identitas dari dukuh ini adalah tarian ronggengnya. Setelah hampir dua belas tahun meninggalnya ronggeng terakhir di dukuh tersebut, muncullah Srintil yang menjadi ronggeng baru. Namanya kemudian menjadi terkenal di penjuru desa.

Kehidupan dukuh yang kecil dan terpencil tentu akan semakin hidup dengan budaya setempat sebagai hiburan. Novel Ronggeng Dukuh Paruk kemudian menggambarkannya dengan sedemikian rupa tentang antusiasme masyarakat menyambut adanya pertujukkan ronggeng di sana.

Ronggeng di Dukuh Paruk adalah sebuah identitas yang sangat berharga dan dijadikan sebuah penghormatan tertinggi atas budaya setempat. Strintil, sang tokoh utama, menjadi penari ronggeng yang amat digandrungi oleh banyak penduduk, khususnya laki-laki. Banyak laki-laki yang ingin menari dan bersanding dengannya, bahkan namanya juga sudah tersiar hingga pejabat kabupaten.

Isu Politik Negara Berdampak hingga Dukuh Paruk

Kisah Srintil sebagai penari ronggeng tidak selalu mulus dan mudah. Pada suatu hari, isu politik komunisme berkembang. Malapetaka politik yang terjadi pada tahun 1965 ini juga menyerang Dukuh Paruh. Huru-hara yang kemudian muncul mendorong banyak aksi penangkapan terhadap orang-orang yang dianggap dekat dengan afiliasi organisasi tertentu.

Keberadaan Dukuh yang berada di pelosok membuat informasi menjadi kurang sehingga warga di sana mudah saja untuk dibodohi. Mereka kemudian ditangkap dengan tuduhan sebagai kelompok yang dekat dengan organisasi terlarang negara karena disusupi.

Padukuhan itu dibakar oleh aparat dan kelompok kesenian itu ditahan, baik Srintil maupun penabuh-penabuh calungnya. Selama di tahanan, Srintil kemudian melakukan refleksi diri dan menyadari pentingnya hakikat manusia. Maka ia bertekad akan menjadi manusia seutuhnya setelah keluar dari penjara.

Novel Ronggeng Dukuh Paruk ini terbit pada tahun 1982, di mana saat itu pemerintahan orde baru sedang berkuasa. Pemerintahan Soeharto memiliki ketidaksukaan pada hal-hal yang berbau kiri sehingga novel ini dilarang untuk diedarkan. Padahal kisah di dalamnya bukan perihal provokasi atau hasutan lainnya.

Novel Ronggeng Dukuh Paruk: Melihat Srintil sebagai Korban Subordinasi Gender

Tokoh Srintil dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk digambarkan sebagai sosok perempuan cantik yang menjadi idola kaum laki-laki. Ia memerankan perannya sebagai penari dan dikelilingi oleh banyak lelaki yang tak jarang menuju ke arah pelecehan. Adanya stereotip akan hal ini membuat Srintil dianggap rendah secara tidak langsung oleh laki-laki.

Bentuk ketidakadilan gender ini juga bisa dilihat ketika Srintil tidak bisa memilih keputusannya sendiri. Sebagai perempuan, budaya masyarakat setempat memaksa perempuan hanya boleh melakukan tindakan yang sudah ditetapkan saja. Dalam kasus ini, Srintil sudah dijadikan objek menjadi penari ronggeng bahkan sejak kecil.

Kehidupan masyarakat di sana juga digambarkan kental akan pelecehan kepada kelompok perempuan. Hanya di atas panggung lah, seorang Ronggeng bisa mempermainkan laki-laki. Sementara di luar itu, laki-laki kembali penguasa atas perempuan.

Ikatan budaya ini juga memperlihatkan aturan bahwa seseorang yang menjadi ronggeng tidak boleh memiliki ikatan dengan lelaki manapun. Dilema ini terjadi ketika Srintil jatuh cinta dengan Bajus. Seorang pemuda di Dukuh Paruk yang gemar melakukan judi.

Baca juga: Pemain Judi Profesional dalam Karya Sastra Legendaris Indonesia

Nilai-nilai feminisme kemudian muncul dalam Novel Ronggeng Dukuh Paruk ketika ia ditahan karena isu politik. Srintil menyadari bahwa ia harus hidup sebagai manusia yang bebas dalam menentukan hidupnya. Maka setelah ia bebas dari penjara, ia memiliki prinsip untuk memperbaiki dirinya dan tidak akan melayani laki-laki manapun ketika di panggung. Pun eksploitasi yang sebelumya terjadi pada Srintil menunjukkan bahwa ia tidak memiliki kuasa apapun.

Meski ia mulai menyadari hal ini, kondisi struktural masyarakat yang sudah terbentuk membuatnya sulit untuk melakukan perubahan. Bahkan dalam hubungan asmara dengan Bajus, pemuda hobi judi, hubungan mereka kandas di tengah jalan sebab latar belakang sosial budaya.

Novel Ronggeng Dukuh Paruk ini masih relevan untuk dibaca dan dinikmati saat ini.